Minggu, 02 Februari 2014

MENYIGI TAMBO ALAM MINANG KABAU

DATA SEJARAH TENTANG MINANGKABAU

Pada abad ke-7 telah kelihatan kerajaan " SAN FO TS'I" dan " CHEL LI FOCHE" (menurut catatan tiongkok),dibaca kedalam Bahasa Indonesia " TEMBESI" ( Di Jambi ) dan SRIWIJAYA
Nama San fo ts'i adalah anak sungai yang bermuara ke Batang Hari ( Muaro Tembeso ) yang membentuk simpang tiga ( Bahasa Cina: San = tiga,Fo ts'i = Simpang atau cabang )
Batang Hari berhulu sebahagian besar didanau diatas dan sebahagian lagi ke Sungai Deras,suatu negeri dekat perbatasan Solok dengan Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung ( Catatan: Bukan Sungai Dareh ).
Sungai Dareh,subuah kota dimasa kerajaan Minangkabau silam sebagai pusat kerajaan dan perdagangan ditepi Batang Hari,disungai dareh ini pula terdapat Pulau Punjung,karena dulunya sebuah Delta yang merupakan sebuah Pulau,Punjung berasal dari kata "PUJOU" yang artinya PUJA,Disisnilah dulunya tempat pemujaan atau pusat persembahan,Maksudnya tempat bersemayam DAPUNTA HYANG yang berasal dari Gunung Merapi.
Pulau atau sebuah Delta yang berada ditangan sungai ( Batang Hari ),suatu tempat persemayaman yang segar,karena tempat itu seakan akan membentuk pertemuan dua buah sungai,terjadinya dua cabang sungai itu disebabkan oleh pulau tersebut,walaupun pada pangkalnya sungai itu satu juga,suatu tempat yang indah sekali pemandangannya menghadap kebarat laut,tempat berdirinya Gunung Merapi dengan megah,persamaan tempat identik dengan tempat pemberangkatan,yaitu Minanga tamwan atau minanga kabwa ( Istilah: Prof.Purbacaraka).
Dalam hal ini terdapat perbedaan historiografi yang pernah dinyatakan pada ahli sejarah,pusat kerajaan itu bukan disekitar sungai Kampar-kanan dan sungai kampar kiri ( Muara takus ),melainkan dipulau punjung/sungai dareh,karena disinilah sebahagian rombongan dari gunung Merapi diistirahatkan untuk membuat sebuah negara/kerajaan,sebagaimana yang dinyatakan dalam prasasti Kedukan Bukit,Muara sungai kampar hanyalah merupakan tempat pemberangkatan perjalanan suci sekembali dari Parhyangan ( Gunung Merapi ).
Namun penamaan negara/kerajaan yang sudah didirikan itu terambil dari " MINANGA KABWA" ( Tempat pemberangkatan identik dengan tempat peristirahatan yang menjadi tujuan perjalanan suci )
Perkataan CHEL LI FOCHE dibaca dalam Bahasa Indonesia adalah SRIWIJAYA,perkataan itu bukanlah nama kerajaan,tetapi sesuatu pernyataan dari Dapunta Hyang yang terputus disebabkan aksara dalam prasasti kedukan Bukit itu tidak terbaca atau hilang.Dalam bahasa sanskrit /sanksekerta terdiri dari kata: Csri = cemerlang,Wijaya = kemegahan) maksudnya kemegahan yang cemerlang.
adapun isi prasasti kedukan Bukit terdiri dari 10 baris kalimat yaitu:
  1. Swasti Csri csakawarsatita 605 ckadaesi csu ( selamat sejahtera tahun saka telah berjalan 605 tanggal 11)
  2. Klapaksa wulan walan waicsaka Dapunta hya nayik di ( Setengah terang bulan waisaka,yang dipertuan Hyang naik di )
  3. Samwan manalap siddhayatra di saptami csuklapaksa. ( Perahu mengambil perjalanan suci,pada tanggal 7 paro terang )
  4. Wulan Jyestha Dapunta Hyan marlapas dari minanga ( Bulan Jyestha Yang dipertuan hyang berangkat dari Minanga )
  5. Tamwan mamawa yan wala dua laksa danan kocsa ( Tamwan membawa tentara dua laksa dengan peti.)
  6. Dua ratus cara di samwan danan jalan sariwu ( Dua ratus mata mata diperahu dengan jalan darat seribu )
  7. Tlu ratus sapuluh wanyaknya datan dimata yap ( Tiga ratus dua belas banyaknya,datang dimata yap )
  8. sukhacitta dipanjcami csuklapaksa wulan ( Bersuka cita pada tanggal 5 bulan )
  9. Langhummudita datan marautwanu..........# tulisan terputus karena hilang ( Dengan mudah dan senang datang membuat negara........................)
  10. .....................csriwijaya jaya siddhayatra subhika.............# kata terputus ( .......Sriwijaya / kemegahan yang cemerlang dengan menang dari perjalanan suci,kemakmuran.............)
Dari isi prasasti ini terdapat perbedaan penafsiran tentang nama sriwijaya yang oleh para ahli sejarah dinyatakan sebagai nama sebuah kerajaan
Berhubung dengan perkataan sriwijaya yang diucapkan Dapunta Hyang di Minanga kabwa ( Pulau Punjung/Sungai dareh) maka ditinjau dari dari sudut sosiologi-publistik,bentuk pernyataan ini disebut sebagai " Vertical communication",berarti sumber pernyataan ini adalah dari pusat negara/kerajaan yang baru didirikan yaitu dipulau punjung/Sungai Dareh,walaupun kenyataannya bukti-bukti pernyataan itu terletak di daerah Kedukan Bukit-Palembang,tidak berarti Sriwijaya itu dipalembang,jika ditafsirkan tempat.
dari sudut Publistik dapat dibuktikan bahwa publikasi dapat saja tersebar dimana mana,contohnya terdapat tugu-tugu peringatan kemerdekaan indonesia ( Proklamasi ) tersebar diseluruh pelosok Nusantara dewasa ini,Proklamasi dinyatakan di Jakarta,tetapi prasastinya dapat dijumpai dimana saja,Sayang,dalam teknik publikasi di abad ke 7 itu tidak sejelas yang dialami sekarang,pada umumnya teknik publikasi dimasa lampau bersifat anonim,baik itu nama penulis,penanggalan maupun tidak pernah disebut sebut.
penyusunan Historiografi berdasarkan laporan laporan Fa Hien ( 412 ),maupun I Tsing ( 685-695 ) yang tidak menyebut nama dan pusat kerajaan secara pasti menimbulkan interprestasi yang berbeda beda terhadap dokumen sejarah.
Berdasarkan dokumen dokumen seperti Tambo dan Kaba yang masih tersebar di Sumatera Barat diperoleh juga keterangan,bahwa Pucuk Jambi Sembilan Lurah
Suatu hal yang mengesankan bahwa Raja Minangkabau dinyatakan sebagai " Raja di negeri Asli" dan dianggap sebagai " Raja Alam ",maharaja yang bertuah diantara sesama raja-raja oleh raja raja dikerajaan Indrapura,Indragiri dan Pucuk Jambi sembilan Lurah,Raja Minangkabau bergelar " Maharajo" disetarafkan dengan Sultan Turki dan Raja Cina yang pada masa itu sangat magat dan megah.
oleh karena silsilah raja raja tiada tersusun,maka sejarah terhadap ini mulai berkisah dengan akhir abad ke 13,tatkala 11 tahun sesudah tahun saka 1197 atau tahun saka 1295 Mauliwarmadewa menjadi Raja Darmasyraya di siguntur,jantung kerajaan Melayu 
Berdasarkan uraian dan dokumentasi yang dikemukan ini jelaslah kerajaan Minangkabau yang mula mula didirikan oleh Dapunta Hyang yang turun dari Gunung Merapi sebagai Parhyangan berpusat di Pulau Punjung/Sungai Dareh,suatu tempat yang disebut " Minanga Kabwa" yang identik dengan tempat pemberangkatan yang dinamakan " Minanga tamwan"
***********************************************************************************
Pembahasan berikutnya akan kita bahas dilain kesempatan...!!!
( Diadaptasi dari Buku Menyigi Tambo Alam Minangkabau oleh Drs.Mid Jamal-1985 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar